Agnostik Adalah : Agnostik Menurut Islam, Ciri ciri dan Contohnya

Posted on

Adalah.Co.Id – Agnostisisme adalah suatu pandangan bahwa ada atau tidaknya Tuhan atau hal-hal supranatural adalah suatu yang tidak diketahui atau tidak dapat diketahui. Definisi lain yang diberikan adalah pandangan bahwa “alasan yang dimiliki manusia tidak mampu memberikan dasar rasional yang cukup untuk membenarkan keyakinan bahwa Tuhan itu ada atau keyakinan bahwa Tuhan itu tidak ada.

Secara Etimologi, Agnostisisme berasal dari perkataan Yunani gnostein (artinya ‘tahu; mengetahui’) dan (artinya ‘tidak’). Arti harfiahnya ‘seseorang yang tidak mengetahui’. Agnostisisme bukan sinonim dari ateisme.

Thomas Henry Huxley seorang ahli biologis mengatakan kata agnostic pada tahun 1869, dengan mengatakan bahwa ‘hal ini memiliki makna bahwa seseorang tidak sepatutnya mengatakan kalau dirinya tahu atau percaya pada sesuatu dan dirinya tidak punya hal dasar ilmiah untuk mengaku ingin tahu atau percaya’.

Hal sebelumnya telah menulis karya-karya yang mengantdung untuk mengangkat cara pandang agnostik, beberapa diantaranya adalah Sanjaya Belatthaputta, seorang filsuf India pada abad ke 5 SM, yang menyatakan agnostisisme akan kehidupan setelah mati, dan Seorang filsuf Yunani abad 5 SM, yang mengungkapkan agnostisisme terhadap keberadaan Tuhan.

Agnostik Adalah
Agnostik Adalah

Agnostisisme adalah kepercayaan atau prinsip dari agnostik mengenai eksistensi dari segala hal yang diluar atau dibalik dari fenomena material atau pengetahuan tentang Sebab Pertama atau Tuhan, dan bukanlah suatu agama.

AGNOSTIK MENURUT ISLAM

(Iqbal, 2011), Menjelaskan bahwa

  1. Pertama; penyangkalan terhadap agama apapun yang berkembang. Atau penerimaan terhadap semua agama sekaligus karena semuanya mungkin benar. Yang manapun seorang agnostik tidak mungkin dapat menerima doktrin agama, sehingga pada akhirnya ia hanya akan kembali kepada posisinya yang tidak beragama.
  2. Kedua; tak ada tujuan hidup, kecuali untuk dirinya sendiri. Atau mengabdikan diri untuk kemanusiaan namun tanpa memiliki parameter yang baku akan benar dan salah kecuali syahwatnya sendiri. Bahkan benar dan salah akan selalu menjadi sesuatu yang relatif, dan tidak ada yang absolut dalam hidup ini. Kebenaran adalah yang semata-mata nampak di depan mata.
  3. Ketiga; tidak memiliki standar nilai atau moralitas, kecuali syahwatnya sendiri atau konsensus yang diterima oleh masyarakat. Karena kebenaran adalah suatu hal yang relatif, maka standar nilai atau moralitas pun akan menjadi relatif. Perselingkuhan akan dapat dibenarkan dengan alasan yang tepat, ini hanya salah satu contoh.

Dari ketiga poin diatas, terlihat jelas kemiripan antara konsekuensi agnostisisme dengan konsekuensi atheisme terhadap seseorang. Hanya saja ada perbedaan ideologis yang menjadi latar belakang keduanya, sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya.

Lalu bagaimana Islam menjawab keraguan dari seorang agnostik? “Dan jika kamu (tetap) dalam keraguan tentang Al Qur’an yang Kami wahyukan kepada hamba Kami (Muhammad), buatlah satu surat (saja) yang semisal Al Qur’an itu dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah, jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. 2:23)

Sederhana saja. Kalau Al Qur’an bukan bukti nyata keberadaan Tuhan yang dapat diterima dengan akal sehat, silahkan menjawab tantangan ini. Kalau tidak bisa memenangkan tantangan ini, jelas berarti klaim Al Qur’an adalah benar dan ternyata keberadaan Tuhan dapat diterima dengan akal sehat dalam kapasitasnya. Perlihatkanlah klaim dari Al Qur’an yang menunjukkan supremasinya diatas akal manusia, sebagaimana difirmankan oleh Allah Ta’ala :

“Al Qur’an hanya bisa dibuat oleh selain Allah S.W.T; akan tetapi (Al Qur’an itu) membenarkan adanya kitab sebelumnya dan menjelaskan hukum yang sudah ditentukan, tidak ada keraguan di dalamnya, (diturunkan) dari Tuhan semesta alam.” (QS. 10:37)

Al Qur’an, sebuah bukti nyata yang terang benderang dan menunjukkan kesalahan pola pikir mereka yang didasari oleh asumsi-asumsi manusia tanpa kebenaran sama sekali. Namun jika setelah itu, mereka masih berbantah-bantahan maka selesaikanlah dengan firman Allah Ta’ala :

‘Dan apakah mereka tidak memperhatikan kepada Allah yang menciptakan langit dan bumi adalah kuasa-Nya (pula) menciptakan hal serupa dengan mereka, dan telah menetapkan waktu yang tertentu bagi mereka yang tidak ada keraguan padanya? Maka orang-orang zalim itu tidak menghendaki kecuali kekafiran.’ (QS. 17:99).

Lalu laksanakanlah sebagaimana perintah dari Allah swt dalam firman-Nya :

“Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang makruf, serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.” (QS. 7:199)

CIRI-CIRI AGNOSTIK

  1. Untuk kaum Agnostik, kepastian untuk mempercayai adanya Tuhan itu sangat susah dibuktikan. Karena itu mereka memilih untuk berdiri di garis tengah. Tidak serta merta menolak, namun juga tak segampang itu percaya
  2. Agnostik percaya bahwa manusia sendiri lah yang bertanggung jawab atas dirinya. Bukan campur tangan entitas omnipotent (berkuasa melakukan apapun dengan kekuatan tak terbatas) yang tak kasat mata
  3. Mereka lebih fleksibel soal ini, namun tetap saja mereka nggak begitu peduli.
  4. Kaum Agnostik itu bersifat mengedepankan sains dan bersifat logis. Namun mereka percaya bahwa pengetahuan soal hal-hal yang bersifat spiritual itu tak bisa diketahui dengan pasti oleh manusia
  5. Kaum Agnostik ada yang percaya dan mengikuti ajaran suatu agama, namun tetap tak benar-benar yakin soal Tuhannya. Namun ada pihak lain tak percaya akan ritual agama.

CIRI TERSEBUT TERBAGI MENJADI BEBERAPA KATEGORI BESERTA CONTOHNYA

  1. Agnostik ateisme
    Pandangan mereka yang tidak percaya pada keberadaan dewa/Tuhan apapun, tetapi tidak mengklaim tahu apakah dewa itu ada atau tidak ada.
  2. Agnostik teisme
    Pandangan mereka yang tidak mengaku tahu konsep keberadaan dewa/Tuhan apapun, tapi masih percaya pada keberadaan tersebut.
  3. Apatis atau agnostisisme pragmatis
    Pandangan bahwa tidak ada bukti baik ada atau tidaknya dewa/Tuhan apapun, tapi karena setiap dewa yang mungkin saja ada itu dapat bersikap tidak peduli kepada alam semesta atau kesejahteraan penghuninya, pertanyaan ini lebih bersifat akademik.
  4. Agnostisisme kuat (tertutup, ketat, keras, atau agnostisisme permanen)
    Pandangan pada pernyataan tuhan itu ada atau tidak, dan sifat yang nyata tidak dapat diketahui dengan alasan pengetahuan alamiah kita untuk memverifikasi pengalaman dengan apapun selain subjek pengalam lainnya. Seorang penganut agnostik kuat akan mengatakan, “Saya tidak bisa tahu apakah dewa itu ada atau tidak, begitu juga kamu.”
  5. Agnostisisme lemah (terbuka, empiris, lunak, atau agnostisisme duniawi)
    Pandangan bahwa ada atau tidaknya setiap dewa saat ini tidak diketahui, tetapi belum tentu untuk kemudian hari, sehingga orang akan menahan penilaian sampai muncul bukti yang menurutnya bisa menjadi alasan untuk percaya. Seorang penganut agnostik lemah akan berkata, “Saya tidak tahu apakah ada dewa ada atau tidak, tapi mungkin suatu hari, jika ada bukti, kita dapat menemukan sesuatu.”

Kira-kira seperti itulah pola pikir orang Agnostic. Ya memang, jika dilihat dari jenisnya, agnostic bisa membaur pada kedua golongan. Tidak ada golongan yang benar-benar netral. Tapi pun saya tidak mungkin menjadi satu-satunya manusia yang tidak memiliki sebutan. Mungkin ini saja yang bisa saya jelaskan mengenai “Agnostik adalah, asal kata agnostic, agnostic menurut islam,dan ciri atau kategori agnostic beserta contohnya”.

Baca Juga >>>

Sosialisme Adalah : Sejarah, Ideologi, Paham, dan Para Tokohnya

Komunisme Adalah : Contoh, Ciri Ciri, Ideologi, dan Para Tokohnya

Related posts: