Break Even Point Adalah : Manfaat dan Rumus Menghitung BEP

Posted on

Adalah.Co.Id – Break Even Point (BEP) ialah titik impas di mana posisi jumlah pendapatan dan pengeluaran sama atau bahkan seimbang, sehingga tidak ada untung atau rugi dalam suatu perusahaan.

Break Even Point ini digunakan untuk menganalisis proyeksi sejauh mana banyaknya jumlah unit yang diproduksi atau sebanyak apa uang yang harus diterima untuk mendapatkan titik impas atau kembali modal.

Break-Even Point atau sering disingkat dengan BEP adalah suatu titik atau keadaan dimana penjualan dan pengeluaran sama atau suatu kondisi di mana pendapatan perusahaan cukup untuk menutup biaya bisnisnya. Break Even Point ini biasanya disebut sebagai titik impas dalam bahasa Indonesia, biasanya membandingkan jumlah pendapatan atau jumlah unit yang harus dijual untuk menutupi biaya tetap dan biaya variabel terkait untuk melakukan penjualan. Dengan kata lain, titik impas adalah titik di mana perusahaan tidak kehilangan atau menghasilkan keuntungan.

Break-Even-Point-Adalah
Break Even Point Adalah

Break Even Point (BEP) adalah suatu kondisi di mana perusahaan berada pada titik imbang tanpa kehilangan atau keuntungan. Oleh karena itu (BEP) sering disebut sebagai analisis impas. Pada jumlah yang sama perusahaan menghasilkan laba tinggi dan biaya produksi.

Manfaat Break Even Point

Selain menghindari kerugian, menghitung BEP juga memberikan banyak manfaat untuk perusahaan Anda. Beberapa manfaat dari menghitung atau analisis break even point yakni:

1. Menentukan Harga Jual

Salah satu sebab seorang pengusaha mengalami kerugian adalah karena wirausahawan tersebut secara keliru menentukan harga jual yang rendah. Hal tersebut akan sangat mudah dilakukan jika Anda sebagai pelaku usaha tidak memperhitungkan titik impas dari produksi Anda. Dengan menghitung BEP, maka Anda dapat menentukan harga jual dengan mudah. Sehingga harga yang ditetapkan nantinya tidak terlalu rendah.

2. Menentukan Tingkat Penjualan Minimal

Selain menentukan harga jual, Anda dapat menggunakan ambang laba untuk menentukan berapa banyak unit yang harus diproduksi sehingga laba dapat menutupi biaya yang dikeluarkan. Berdasarkan unit yang sudah dikenal, Anda dapat secara otomatis menentukan penjualan produk minimum yang perlu dijual selama periode ini.

3. Pengendalian Aktivitas Produksi

Break Even Point juga dapat digunakan untuk memberi manajer kontrol atas kegiatan produksi yang sedang berlangsung. Anda dapat menggunakan hasil perhitungan atau analisis BEP sebagai informasi dasar untuk mengelola aktivitas yang Anda jalankan. Ini memungkinkan kegiatan produksi menjadi efektif dan efisiensi.

Rumus Menghitung Break Even Point

Jika Anda tahu manfaatnya, Anda dapat menghitung BEP dan membuat beberapa asumsi untuk menghitungnya. Apakah Anda sudah tahu cara menghitung BEP? Untuk menghitung BEP, dua hal harus dipertimbangkan: BEP dalam satuan dan BEP dalam penjualan. Unit BEP adalah jumlah unit produk atau barang yang harus diproduksi untuk menerima BEP. Sedangkan penjualan BEP adalah jumlah penjualan yang perlu dilakukan untuk mendapatkan BEP. Rumusnya adalah sebagai berikut:

BEP (unit) = FC : (P – VC)

BEP (penjualan) = FC : [1- (VC/P)]

FC= fixed cost atau biaya tetap

VC= biaya variabel per unit

P= harga jual per unit

Hal-hal Yang Harus Diperhatikan Ketika Menghitung BEP

Untuk menghitung BEP ternyata ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sehingga hasil yang diperoleh akan akurat dan berguna. Beberapa hal tersebut merupakan asumsi dasar, di mana asumsi ini harus dipenuhi jika Anda akan menghitung BEP. Adapun asumsi-asumsi tersebut yaitu:

  1. Biaya berbagai kegiatan dapat diperkirakan dalam jumlah yang tepat, sehingga perubahan dalam biaya produksi dapat mengubah tingkat biaya.
  2. Biaya yang dikeluarkan dapat dipisahkan dengan jelas dan termasuk dalam biaya tetap dan biaya tidak tetap. Ini karena analisis BEP dapat dihitung ketika sebagian besar biaya adalah biaya tetap.
  3. Tingkat penjualan sesuai dengan tingkat produksi, sehingga tidak ada perubahan persediaan yang terjadi karena barang dianggap terjual habis.
  4. Harga jual produk diketahui, sehingga harga di pasar tidak berubah.
  5. Biaya variabel dari setiap unit sesuai dengan volume produksi, sehingga efisiensi perusahaan tidak berubah pada level yang berbeda.
  6. Tidak ada perubahan mendadak dalam biaya tetap.
  7. Diasumsikan bahwa perusahaan hanya menjual satu produk ketika pada kenyataannya tidak perlu mempertahankan bauran penjualan.

Dalam praktiknya tidak semua asumsi diatas harus dipenuhi. Hanya saja perlu suatu modifikasi tertentu sehingga perubahan asumsi tidak mengurangi validitas dan kegunaan ataupun manfaat dari analisa BEP.

Komponen Penghitungan Dasar Break Even Point

Break Even Point memerlukan komponen penghitungan dasar seperti berikut ini:

  1. Fixed Cost. Komponen ini tetap atau konstan jika itu adalah proses produksi atau jika perusahaan tidak lagi memproduksi. Contoh dari biaya ini adalah biaya tenaga kerja, biaya penyusutan mesin, dll.
  2. Variabel Cost. Komponen ini adalah biaya satuan yang dinamis tergantung pada ukuran ukuran produksi. Jika produksi yang direncanakan meningkat, ini berarti bahwa biaya variabel pasti akan meningkat juga. Contoh dari biaya ini adalah biaya bahan baku, biaya listrik, dll.
  3. Selling Price. Komponen ini adalah harga jual per unit barang atau jasa yang diproduksi.

Sekian artikel tentang Break Even Point ini semoga bisa memberi manfaat bagi kita semua, Terimakasih.

Baca Juga Artikel Lainnya >>>

Related posts: