Primitif Adalah : Primitif Teknologi dan Ciri Masyarakat Primitif

Posted on

Adalah.Co.Id – Primitif adalah kebudayaan sifat masyarakat ataupun individu tertentu yang belum mengenal dunia luar,dunia teknologi atau jauh dari peradaban yang biasa disebut orang pedalaman. Primitif mempunyai arti apa itu tatakrama, apa itu sopan santun, apa itu teknologi ataupun keperadapan,mereka hanya mengenal peraturan yang ada di lingkungannya, seperti alam sekitarnya, belajar dari pengalam yang mereka dapat di alam.

Kata primitif sering digunakan untuk peradapan atau suku yang tidak mengenal pada pihal luar. Adapun kata primitif ditujukan untuk seseorang yang tidak mempunyai kesopanan dalam perilakunya baik secara verbal maupun secara fisik.

Contoh dari tindakan primitif

  1. Suatu suku hidupnya bergantung pada alam meskipun dunia luar sudah mengalami modernisasi
  2. Seseorang yang mengucapkankata-kata kasar kepada oranglain maka orang tersebut akan dianggap primitif
  3. Suatu kegiatan kebudayaan yang dianggap kuno/ketinggalan zaman , maka bisa dikatakan primitif
  4. Suatu kegiatan yang jauh dari tatakrama dan norma-norma yang ada maka akan dikatakan primitif.

PRIMITIF MODERN

Primitif modern adalah sebuah tingka laku atau prilaku seseorang di kehidupan modern yang memiliki sifat primitif. Maksudnya ialah seseorang hidup di zaman modern akan tetapi cara primitive dilakukan di kehidupannya,seperti; berkata kasar,kekerasan,hanya mementingkan diri sendiri untuk hidup aman dan damai,tidak suka sosialisasi,ataupun kriminalitas, seksual dimana-mana tanpa mengikuti peraturan di era modern.

Melihat ilmu pengetahuan dan teknologi masa kini, penulis tidak akan mengatakan tradisional merupakan sesuatu yang kuno dan terbelakang. Tradisional dapat dikatakan sebagai kebudayaan, berasal dari cipta, rasa dan karya yang dibuat oleh para leluhur.

Primitif-Adalah
Primitif Adalah

Lalu bagaimana dengan primitif? Menurut penulis primitif merupakan cara lama yang tidak relevan digunakan pada masa kini. Dahulu, untuk mengungkapkan perasaan atau cinta, kebanyakan laki-laki mengirimkan surat kepada perempuan yang menjadi kekasihnya. Di masa kini, cara tersebut hanya dipakai oleh sedikit orang, sekarang saatnya untuk menggunakan cara modern yakni, dengan cara mengungkapkannya langsung.

Memang ada orang-orang yang ingin berubah, namun banyak juga yang tidak. Jika tetap menggunakan cara primitif di tengah kehidupan modern seperti sekarang, maka yang terjadi adalah persis yang dikatakan Alvin Toffler dalam teori gelombangnya, setiap benturan antara gelombang itu akan menimbulkan krisis yang tidak kecil (Pardoyo, 1996). Artinya, dapat dibayangkan jika ke depan kita tidak hanya membahas tentang perasaan dan surat melainkan sesuatu yang lebih besar dan berdampak pada mayoritas masyarakat.

Kegiatan tersebut berlangsung terus-menerus hingga sampai pada james watt menemukan mesin uap yang efisien (hemat), lahirlah revolusi Industri. Jauh sebelum itu, para pedagang eropa menggunakan kapal untuk berlayar mendapatkan rempah-rempah, terkadang cara mereka kasar namun tetap menggunakan akal (modern) bagaimana memberdayakan penduduk yang menjadi pekerja di tanah jajahan.

Akhirnya cara-cara lama menggunakan otot berubah menjadi cara yang menggunakan otak dan akal, kreatifitas pun melahirkan bagaimana cara berkomunikasi, cara membuat sesuatu dan puncaknya bagaimana mengelola dan menggunakan ilmu pengetahuan dan teknologi. Oleh sebab itu, aneh apabila kita disediakan teknologi, namun masih tetap bersikeras menggunakan cara primitif (konvensional) di kehidupan modern

CIRI MASYARAKAT PRIMITIF

• Pandangan tentang Alam Semesta
Masyarakat primitif mengangap bahwa alam adalah sebagai subjek. Maksudnya ialah, alam seolah-olah mempunyai jiwa, makhluk yang menempatkan alam sebagai subjek dan berpribadi ataupun’personal’. Berbeda dengan masyarakat modern yang menganggap alam sebagai objek.

Artinya, manusia menempatkan alam bukan suatu yang memiliki jiwa. Manusia modern meyakini antara manusia dengan alam terdapatnya simbiosis mutualisme. Akan tetapi mereka tidak memandang bahwa alam itu makhluk yang berpribadi, memiliki jiwa dan lain-lain.

Contohnya kepada alam yang mengeluarkan isi perutnya (Letusan Gunung Berapi) masyarakat primitif beranggapan bahwa “penguasa gunung” mereka beranggapan penguasa sedang murka pada mereka. Sehingga mereka mengantisipasi peristiwa itu dengan memberikan berbagai sembahan, mengadakan ritus-ritus, yang motifnya agar sang “penguasa gunung” tidak murka kepada mereka.

Berbeda dengan masyarakat modern, ketika dihadapkan pada peristiwa tersebut, masyarakat modern lebih menelaah dan melakukan penelitian terhadap peristiwa tersebut, serta mencari alasan dan jawaban kenapa peristiwa itu bisa terjadi. Secara esensial masyarakat tidak bertempat pada gunung sebagai subjek, tapi objek. Artinya, kejadian alam tersebut dikaji dan dicari antisipasi jika terjadi kembali kejadian alam mesisal itu.

• Mudah mensakralkan Objek Tertentu
Masyarakat primitif memiliki ciri seperti mudah mensakralkan suatu objek tertentu. Maksudnya ialah, masyarakat primitif memandang hal yang bersifat sakral pada suatu yang menurut mereka mengandung kebaikan, kemanfaatan, atau bencana. Semisal, ketika seseorang yang menempati sebuah rumah baru, tak lama kemudian penghuni rumah mengalami sakit.

Mereka langsung beranggapan bahwa penghuni rumah yang sakit disebabkan pengaruh “Jin atau mahluk halus” yang menghuni rumah baru mereka, maka mereka berinisiatif untuk melakukan ritual tertentu yang bertujuan mengusir atau memindahkan “Jin” tersebut agar terhindar dari pengaruh mahluk halus dan tidak lagi mengganggu penghuni rumah. Semisal, dengan memberikan “sesaji”. Bilamana jika masyarakat memiliki pandangan seperti itu, maka merujuk pada ciri masyarakat primitif, sebagainya masyarakat itu juga bisa disebut masyarakat primitif.

Solusi yang ditawarkan penulis menanggapi fenomena tersebut jika dilihat dari perspektif Islam yaitu menanggapi hal yang transenden atau metafisik, wajib mempercayainya. Karena dalam sebuah ajaran di agama Islam sendiri terdapat dogma yang menyebut percaya pada Hari Akhir, percaya kepada Allah, Malaikat, kesemuanya itu bersifat transenden. Artinya manusia harus percaya pada hal yang “gaib”.

Namun, jangan pula langsung menjustifikasi bahwa peristiwa tadi karena mahluk “gaib”, “Jin”. Kemudian mengambil sikap “menawar” dengan ritus-ritus tertentu atau dengan sesaji dan semacamnya.

Menurut hemat penulis, dewasa ini, berdasarkan pandangan Comte (Sosiolog) masuk pada era logos, ilmiah. Artinya, keterkaitan perspektif Islam dan Sosiologis yang sudah dijelaskan sebelumnya dapat ditarik benang merah bahwa sakit memang karena kehendak Allah (hakikat) dan secara “syariat” dalam hal ini secara ilmiah, sakit karena keadaan tubuh “yang sedang goyah”.

Tatkala terdapat virus masuk kedalam tubuh, body protect tidak mampu untuk menangkalnya, sehingga mengakibatkan sakit. Secara spiritual, lebih meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa, Allah SWT, semisal dengan rajin membaca ayat suci al-Qur’an. Secara psikologis ketika self, diri, atau ego sudah meyakini akan sesuatu yang kita yakini maka itu benar (bisa) akan terjadi.

• Sikap Hidup yang Serba Magis
Ciri-iri masyarakat primitif selanjutnya yaitu masyarakat yang kehidupnya selalu dihubungkan dengan hal-hal “gaib”. Ada hal-hal tertentu saja yang terjadi, masyarakat primitif langsung menghubungkannya dengan sesuatu hal yang magi. Maka pada teorinya Comte yakni masyarakat yang termasuk pada tahap mitos. Artinya, masyarakat yang memiliki sikap hidup selalu, hidupnya selalu dikaitkan dengan hal magis.

• Hidup Penuh dengan Upacara Keagamaan
Ciri yang terakhir yaitu hidup penuh dengan upacara keagamaan. Secara keseluruhan keempat ciri tersebut hamper sama seperi apa yang dijelaskan. Ciri yang keempat dari masyarakat primitif ialah upacara keagamaan hidupnya dipenuhi akan semua itu. Misalnya, disaat masyarakat memanen padi di ladangnya, hal tersebut tidak dianggap sepele pada masyarakat primitive.

Mereka beranggapan bahwa terdapatnya -yang mereka sebut dengan- “dewi sri” atau dewi padi. Dan juga takkala saat musim panen ,mereka menyediakan sebuah sesaji untuk kepercayaannya, sebagai tanda terimakasih kepadanya atas keberhasilan panen.

Baca Juga >>>

Agnostik Adalah : Agnostik Menurut Islam, Ciri ciri dan Contohnya

Negara Adalah : Fungsi, Unsur Unsur, Bentuk, dan Tujuan

Related posts: